KELONG ATI TANGNGA BANGNGI
Tangnga bangngi ku timba anna bolakuLingka sulu' ri dallekang lego lego
Sisabbu rannu timbo lalang ati Saile nai ri maddolangan langi'
Lallo tangnga sassang cappe laninring Laku itte bintoeng tabbilla taggentung rate langi
Dabbung atingku sipaddabungang ere mata
Lantemi pangngitteku nai_ricappa langi',
Sassang sangngi sassang tala rie kasinarrang Antere'ko mae bintoeng
Bintoeng pangngainna atingku
Lanynya sikalanynyakkang bulang
Manna tere mae Manna limbang balleang tamparang
Dakka lalang bulu'na bonto pao Laku tajangji kalennu
Lambbattuia ri ele lohe Tabbilla' mako mae
Sisinarri paqmaekku paqmae bulaengna karaengnu
Kiringmi mae sinaraqnu
Laku dongkoki nai ri kalennu
Angngerang passunrang surona anrongku ambunting bajiki kalennu
Baji simbaji bulaeng Bulaeng tamma pinra lino akhere,
Kajang, 30/06/15
DENGARLAH KAMI (suara anak jalanan dari Desa)
Saat-saat kaki terlangkahkan
Sejenak hati berfikir tentang keadilan
Ketika bangsa dilanda bencana
Ketika rakyat kecil dirundung duka
Ketika semua orang berharap tanya
Mana yang benar dan mana yang salah ?!
Banyak sosok muncul seolah pakar
Berteriak-teriak seakan benar
Seharusnya begini dan seharusnya begitu !!
Ternyata semua hanya teori membingungkan
Di sudut-sudut kota dan pelosok negeri
Rakyat jelata menggeliat kelaparan
Anak-anak mulai putus harapan
Akan kemana kami mencari
Napas kebebsan yang semakin sesak
Angin kehidupan yang mulai hilang
Sungguh tragis dan ironis
Rupiah terpuruk dalam kekhawatiran
Si awam hanya bertanya
Dosa siapakah ini ?!
Kok kami yang mendapat siksa
Kami tidak perlu banyak partai,
Kami tak perlu banyak pemerintah,
Yang kami butuhkan tempat ibadah,
Tempat menuntut ilmu,
Sayang, itu adalah mimpi buruk bagi kami.
TUGU CINTA
Begitu payah lenyapkan rindu
padamu yang selalu ada
biar ingin melupuskan semua
tak pernah dapat kumungkiri
luapan hati sendiri.
Semalam kutemui lagi dia
membongkar lagi bicara lama
tak berdaya untuk ku sembunyikan wajah
untuk tidak berlaku jujur
bila cinta tak pernah berkubur
segalanya menjadi mungkin
tak kan mungkin dapat berpaling
bila kau sentiasa ada
di sudut hatiku yang tersendiri.
Aku menjadi tersangat rindu
memelukmu didalam angan
mementerai janji setia
yang pernah kubina dulu
meskipun istana kau robohkan
tetap teguh dalam kenangan
menjadi tugu cinta
tersergam indah.
Takkan mungkin tersingkir
degup rasa yang bergelora
begitu dekat adanya
meski tak pernah kurasa
ada cinta di sudut hatimu
tetap kurela
bermain api membakar diri
bila rentung jiwa memberi bahagia .
Kajang, 28/06/15
(TERTAWA UNTUKMU SANG NAHKODA)
Jangan bicara soal idealisme Mari tertawa berapa banyak uang di kantong kita Atau berapa dahsyatnya Ancaman yang membuat kita terpaksa onani Jangan bicara soal nasionalisme Mari tertawa tentang kita yang lupa warna bendera sendiri Atau tentang kita yang buat Bisul tumbuh subur Di ujung hidung yang memang tak mancung Jangan perdebatkan soal keadilan Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan Jangan cerita soal kemakmuran Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan Lihat di sana... Di urip meratap Di teras marmer direktur mutat Lihat di sana... Si icih sedih Di ranjang empuk waktu majikannya menindih Lihat di sana.... Parade penganggur Yang tampak murung di tepi kubur Lihat di sana....... Antrian pencuri Yang timbul sebab nasinya dicuri Jangan bicara soal runtuhnya moral Mari tertawa tentang harga diri yang tak ada arti Atau tentang tanggung jawab Yang kini dianggap sepi Jangan bicara soal sejahtera Mari tertawa tentang masjid yang runtuh Jangan bicara soal tidur lelap Mari tertawa tentang dinginnya Nasib hidup di tanah yang subur Sebagai anak petani Dari Ammatowa Saya melihat Indonesia kau ibarat kapal tua Yang berlayar tak tahu ara Arahnya ada Tapi nahkoda Tak tahu membaca Mungkin dia Bisa membaca Tapi tertutup hasrat yang membabi buta Lantas, Kapan Indonesia Bersandar di pantai sejahtera ??
Kajang, 29/06/15
membongkar lagi bicara lama
tak berdaya untuk ku sembunyikan wajah
untuk tidak berlaku jujur
bila cinta tak pernah berkubur
segalanya menjadi mungkin
tak kan mungkin dapat berpaling
bila kau sentiasa ada
di sudut hatiku yang tersendiri.
Aku menjadi tersangat rindu
memelukmu didalam angan
mementerai janji setia
yang pernah kubina dulu
meskipun istana kau robohkan
tetap teguh dalam kenangan
menjadi tugu cinta
tersergam indah.
Takkan mungkin tersingkir
degup rasa yang bergelora
begitu dekat adanya
meski tak pernah kurasa
ada cinta di sudut hatimu
tetap kurela
bermain api membakar diri
bila rentung jiwa memberi bahagia .
Kajang, 28/06/15
(TERTAWA UNTUKMU SANG NAHKODA)
Jangan bicara soal idealisme Mari tertawa berapa banyak uang di kantong kita Atau berapa dahsyatnya Ancaman yang membuat kita terpaksa onani Jangan bicara soal nasionalisme Mari tertawa tentang kita yang lupa warna bendera sendiri Atau tentang kita yang buat Bisul tumbuh subur Di ujung hidung yang memang tak mancung Jangan perdebatkan soal keadilan Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan Jangan cerita soal kemakmuran Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan Lihat di sana... Di urip meratap Di teras marmer direktur mutat Lihat di sana... Si icih sedih Di ranjang empuk waktu majikannya menindih Lihat di sana.... Parade penganggur Yang tampak murung di tepi kubur Lihat di sana....... Antrian pencuri Yang timbul sebab nasinya dicuri Jangan bicara soal runtuhnya moral Mari tertawa tentang harga diri yang tak ada arti Atau tentang tanggung jawab Yang kini dianggap sepi Jangan bicara soal sejahtera Mari tertawa tentang masjid yang runtuh Jangan bicara soal tidur lelap Mari tertawa tentang dinginnya Nasib hidup di tanah yang subur Sebagai anak petani Dari Ammatowa Saya melihat Indonesia kau ibarat kapal tua Yang berlayar tak tahu ara Arahnya ada Tapi nahkoda Tak tahu membaca Mungkin dia Bisa membaca Tapi tertutup hasrat yang membabi buta Lantas, Kapan Indonesia Bersandar di pantai sejahtera ??
Kajang, 29/06/15

No comments:
Post a Comment